Kamis, 09 Juni 2016

Untukmu yang terpisah jarak ribuan kilometer dariku … Bolehkah aku bercerita?

Aku memang bukan perempuan yang pandai mengungkapkan perasaan ketika tepat berdiri tegak di hadapanmu. Bukan pula gadis yang dengan mudah mengumbar kata sayang dan cinta layaknya sepasang kekasih di luar sana.
Aku masih yang dulu, gadis penuh teka-teki yang selalu bersifat seolah acuh di depanmu, walaupun sejujurnya hati ini meranggas setiap kali merindukanmu.
Sesungguhnya gadis yang selalu membiarkan dirimu berkelana dengan duniamu, agar kau tetap bahagia bersamaku tanpa ada kekang diantara kita, tapi aku hanyalah perempuan  yang sedang berpura-pura tegar melewati setiap hari demi hari tanpamu..
Kusadari betul, tugas dan masalah yang kau hadapi saat ini sudah cukup membuatmu tertekan, lantas bagaimana mungkin aku tega merengek rindu, mengeluh akan keadaan kita yang justru hanya akan semakin membebanimu pikiranmu..

Sebagai perempuanmu, bukankah tugasku hanyalah mendukung setiap langkahmu..
Andai saja kamu memahami, betapa remuk  hati ini saat kamu, pria yang sekian lama menjadi tempat berbagi canda, tawa dan cerita justru memilih untuk mencari kerja dan ingin dekat dengan keluargamu jauh di sana dibanding di sini bersamaku. YA, Aku hanyalah perempuan EGOISE dalam hal ingin memilikimu seutuhnya, Namun dengan berjalannya waktu kini aku memahami, perpisahan kita hanyalah sementara..
Keputusanmu untuk meninggalkanku juga bukan tanpa alasan, apalagi kalau bukan untuk mengejar mimpi-mimpimu dan membahagiakan keluargamu. Kamu sosok pria dengan kepercayaan diri dan ambisi tinggi tentu akan memilih tempat terbaik untuk meraih semua itu. Tak sama halnya denganku, gadis pemalu yang lebih banyak menerima takdir tanpa mau berjuang lebih..
Malu rasanya tiap kali bercermin pada masa lalu, aku masih gadismu yang biasa saja seperti kemarin pertama kali kita berjumpa.
Sementara kamu telah berubah menjadi sosok pria dewasa. Kamu tahu persis ada banyak hal yang harus dikorbankan dan ada sebagian yang memang pantas diprioritaskan.
Bila kebersamaan kita saat ini adalah hal yang layak dikorbankan, bolehkah aku meminta agar kelak hidup menua bersamaku adalah satu dari sekian banyak target yang ingin engkau gapai?

Untukmu yang kupeluk dalam doa dan selalu kuharapkan dapat kutemui dalam mimpi tengah malamku..
Bolehkah ku bertanya? Bukankah cinta namanya bila sanggup membuatku bertahan dalam penantian panjang ini?
Menutup mata akan setiap godaan yang datang, walau sebagai perempuan biasa kadang iri rasanya melihat teman sejawat dapat menghabiskan weekend dan agenda makan bersama. Sementara kita?  masih berusaha menepis rindu, berdamai dengan sang jarak dan waktu.
Di saat kamu makan sendirian disana, akupun disini tak lebih baik kondisinya. Melahap dengan getir tiap suap nasi dan berharap kelak kita dapat duduk semeja, menghabiskan canda tawa setelah sekian lama tak berjumpa…
Tapi tenanglah, jangan takut aku jenuh dan meninggalkanmu karena hal ini, dari sini aku belajar Mencintaimu dalam DOA adalah Cinta yang Romantis.. Kamu tau kenapa ? seperti cintaku kepada Allah SWT, Tak bisa ditatap, tak bisa mendengar suaraNya.. Tapi kita yakin bahwa Allah selalu ada Untuk Kita.. hanya DOAlah yang bisa kupanjatkan agar aku selalu terhubung kepada Allah swt, seperti kamu yang slalu ku sebutkan dalam gelapnya malam disetiap sujudku..


Bukankah cinta namanya bila hati ini masih saja memaafkan tiap kali kau acuhkan tak kau hiraukan demi kesibukan dan mimpi-mimpimu di seberang sana?

Dan setiap kerinduan itu kembali menyapa, aku hanya bisa memejamkan mata, menenggalamkan diri sendiri dalam kesibukan agar sejenak dapat menghapus bayang-bayangmu di setiap hela nafasku. Raga kita memang tak sanggup bersisian, tapi bolehkah hati kita tetap bersanding?
Mereka bilang sia-sia menghabiskan waktu menunggumu, bila di sini masih ada yang berharap bisa mengisi sebagian rongga di hatiku semenjak peninggalanmu.. Mereka lupa bukankah setiap hubungan harus didasari sebuah kesetiaan..
Yang kutahu setia itu bukan karena namamu ada di setiap bio sosmedku, bukan pula karena foto kita yang selalu kuumbar di hadapan mereka, namun setia itu tahu betul untuk siapa hatiku kalau bukan untukmu..

Bukan cinta namanya bila tak mampu mempersatukan kamu pria kurang peka dan aku gadis penuh teka-teki

Aku memang bukan perempuan sempurna, bahkan jauh dari sosok lemah lembut dan penurut. Sudah terlalu banyak episode-episode dimana kita beradu argumen, berselisih paham, hingga akhirnya cinta juga yang mempersatukan kamu dengan keegoisanmu dan aku dengan keras kepalaku.
No matter how bad we fight, you are always be my home…
Bersisian sekian lama, menerka masa depan berdua memang bukan jaminan kelak kita akan hidup menua bersama, bila memang bukan aku yang digariskan oleh takdir untukmu..
Namun, bolehkah aku meminta hubungan yang telah sekian lama kita perjuangkan akan berakhir di sebuah detik saat tanganmu menjabat tangan Ayahku dan berjanji sehidup semati bersamaku..

Padamu pria yang mengisi  hari-hariku, menjadi teman berbagi cerita, canda dan tawa..
Akhirnya, pada jarak dan waktu kutitipkan hati dan rindu ini untukmu..
Mereka yang juga kelak menjadi saksi akankah kamu seorang pria yang kini sedang memantaskan diri akan bersatu denganku perempuan yang tak letih menjaga hati..

 For you : D.a
#21

Senin, 06 Juni 2016

TanpaMu Aku seperti ABU...

Hai Mama,
Apa kabarmu sekarang ? Pasti kau sangat bahagia berada disampingNya bukan ?
Masih ingatkah Ma saat meninggalkan aku, gadis kecilmu ini ? Ahh, sungguh kau pasti mengingatnya, seketika itu juga duniaku runtuh bukan. Pasti kau marah kepadaku karena saat itu aku merasa Tuhan tidak mencintaiku lagi, karna ia telah memanggilmu.
Masih terekam jelas di otak kananku sejak kepergianmu. Gadis kecilmu ini tidak ada semangat melanjutkan kehidupan dan setiap malamnya hanya bisa membasahi bantal tidurnya dengan air mata.
Kau juga pasti kecewa karena dia menjalani harinya dengan penuh kesedihan karena kehilangan orang yang ia cintai dan dibanggakan di bumi ini,
Tapi tolonglah Ma saat itu gadis kecilmu ini belumlah sedewasa sekarang, dia belum mengerti bahwa ada seorang Bapak yang selalu ada untuknya dan satu orang adik yang begitu mencintaiku dan membutuhkanku.
Kau pasti bosan mendengarkan doaku setiap malam yang selalu bertanya kenapa Tuhan ? Kenapa Ia harus memanggilmu ? Kenapa Aku yang lemah ini harus menerima semuanya? Tapi Mama waktu itu Tuhan belum memberikan jawaban kepadaku. Jadi jangan salahkan gadis kecilmu ini yang terus – terusan bertanya.
Hingga pada akhirnya gadis kecilmu ini berubah menjadi seorang gadis dewasa dan Tuhan memberikan jawabannya. Sunggu Tuhan memberikan jawaban di waktu yang tepat Ma.
Kehilanganmu merupakan kesedihan terbesar dalam hidupku Ma. Tapi siapakah yang dapat menyelami pekerjaanmu jika aku harus berlarut dalam kesedihan ini ?
Karena toh pada akhirnya bukankah dalam setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Karena pada akhirnya bukankah semua manusia akan kembali kepadaNya, karena pada akhirnya bukankah setiap orang punya cobaan masing- masing yang harus ia lalui dengan takdir yang mengikatnya (walau berat bagiku untuk menjalaninya).
Sekarang tanpaMu aku hanya berpegang Teguh terhadap Al- Qur'an yang selalu membuatku kuat akan setiap masalah yang aku hadapi.. Walaupun sebelumnya kau berperan penting dalam mengatur semua hidupKu.
Bukankah waktu yang diberikan Tuhan di dunia ini adalah kesempatan bagi kita untuk terus memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai dan bukan hanya selalu bertanya mengapa bisa? kenapa harus aku? kenapa harus pergi?
Mama sekarang aku percaya untuk semua yang terjadi dalam kehidupan ini ada alasannya.
Mama inikah rencana Tuhan atas kepergianmu untuk menjadikanku gadis dewasa yang tidak semanja dulu ketika kau masih ada? untuk menjadikanku gadis yang kuat ? dan mungkinkah Tuhan memberikan jawaban atas doaku dalam jangka waktu yang lama hanya untuk menjadikan pribadi yang tekun dan sabar Ma ?
Mama maafkan aku karena kesedihanku terhadap kepergianmu membuatku melupakan bapak yang juga mencintaiku. Aku egois yang selalu memikirkan diri sendiri untuk mencari alasan terhadap kepergianmu dan tidak memikirkan bapak yang juga kehilangan separuh hidupnya yaitu Kau. Dan aku berjanji untuk menjaga Bapak dan Adik hingga akhir hidupku..
Sungguh mama gadis kecilmu yang kini telah dewasa akan jadi pribadi yang lebih menghargai setiap nafas yang diberkan Tuhan kepadanya
Ditulis Oleh..
Afi Sulistiyowati Hardi
27 Juli 2015
To : Mama Murniati Binti Jabinu
1/10/1969 – 13/02/2015
I So Miss you :')

Perselingkuhan di Dunia Maya- Cerpen

Ah, aku lupa nama account Facebook-mu yang membuat kita berkenalan. Seingatku, aku yang menyapamu duluan di ruang komentar, mungkin kala itu aku terpaksa melakukannya di tengah kebosananku berada di bengkel. Awalnya, aku hanya membuka Facebook dari Handphone sambil menunggu pacarku yang sedang memperbaiki motornya di bengkel. Telah beberapa kali kubaca sederetan kata kata indah dari temanku yang berasal dari kata-katamu. Tapi entah kenapa aku lalu tertarik menjadi teman facebookmu.
“Siang, Kak Aris. Kata-katamu menginspirasiku,” sapaku dalam sebuah komentar di laman Facebook-mu.
“Siang juga, Dik. Terima kasih Dik, semoga kata-kataku bermanfaat bagi keseharianmu, menjadi nasihat bagi hidupmu,” sapamu
Sikap ramahmu selalu menyempatkan waktu membalas semua komentar satu per satu membuatku jadi tambah tertarik dan ingin mengenalmu lebih lagi. Meskipun sekedar kata-kata tetapi dapat kurasakan nikmat yang luar biasa dari setiap pertemuan maya kita, ketika kau sedang offline maka kerinduanku mulai bertumbuh lagi padamu. Aku rindu jalinan kata katamu. Ah alangkah bahagianya hatiku jika saja pacarku sepertimu.
Kurebahkan diri di sebuah tilam kecil, lelah sepulang menemani pacarku, aku malah mengingatmu entah kenapa, pacarku bahkan tiada sama sekali dalam pikiranku. Aku sungguh kagum dengan mu, hingga akhirnya kuputuskan mengambil handphone lalu kubuka account-mu. Ingin sekali aku tuliskan pesan untuk mu kalau aku ingin kopi darat denganmu, aku ingin bertemu denganmu. Tapi entah kenapa, tiba tiba ada keraguan yang muncul menyapaku, aku merasa jika aku menemuimu maka aku mengkhianati pacarku. Dengan kata lain aku berselingkuh atau setidaknya aku telah mencoba melakukan perencanaan perselingkuhan. bukankah dia hanya kenalanku di dunia maya, bukan di dunia nyata jadi Biarlah saja.
Kubuka Laptopku, Baru 3 jam lamanya aku membuka laman FB Aris, lalu aku dikejutkan oleh dering handphoneku. “Sayang tolong nanti temani aku lagi, ya ke bengkel,” suara itu kembali mengacaukan onlineku, “Bukankah seharian tadi sudah berada dibengkel, aku bosan kalau setiap hari menemanimu ke bengkel terus”
“Hey ada apa ini mengapa kau berkata begitu?”
“Aku bosan sudahlah kau ajak temanmu saja! Aku cape sekali, aku mau online dulu!”
“Bicaramu nggak seperti biasanya. Baikklah, lanjutkan saja online-mu. Besok pagi saja aku mampir ke kostmu” lalu terputus sudah telfon dari pacarku. Saat yang bersamaan pula Aris berkomentar di laman Fb ku
“Lagi apa sayang?”
Apa??? baru kali ini aris memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’. Perasaanku begitu carut marut tiba tiba rasa bersalah bermunculan di benakku. Oh… aku harus menghentikan ini, berkhianat namanya jika sampai terhanyut, aku masih mencintai pacarku, tetapi aku begitu nyaman dengan segala sesuatu yang diberikan oleh aris! Aku binggung, aku memang berharap bersama aris walau hanya dalam dunia maya saja. Ahh biarkan saja hal ini berjalan apa adanya mengalir semaunya, seperti sungai terhanyut di arusnya yang deras. Yang penting aku sadar cinta yang mengalir ini hanya di dunia maya, tak nyata.
Cukup lama kami saling sayang sayangan lewat lama FB, sampai aku terlelap tanpa sempat ku offlinekan laptopku.
Dan aku terjaga ketika pagi datang dengan mengucek mata aku tak percaya kalau pacarku sudah tampak murung di dalam kamarku duduk di sofa kecil.
Kapan ia datang?, kenapa nggak berusaha membangunkanku? Ada apa ini? Ah gawat laman Fb ku belum aku sign out.
“Aku ingin kita putus,” kata pacarku tiba tiba
“Hey… ada apa kau ini? Belum sempat mengucapkan selamat pagi, tiba tiba saja kau berkata seperti itu?”
“Kau telah mengkhianati aku, kau sudah selingkuh!”
“Apa Buktinya?” aku menjaawab dengan tenang,
“Aku melihat laman Fb mu barusan, Tadi ketika aku ke kamarmu, kulihat laptopmu masih menyala, hendak kumatikan tapi tidak jadi setelah aku membaca semua komen mesramu dengan seorang lelaki yang bernama Aris”.
Aku binggung sekali dengan kondisi seperti ini, yang dikatakan olehnya memang benar tapi itu hanya di dunia maya.
“Baiklah aku akui, semalam memang online dengannya tapi aku tidak pernah tahu siapa aris, aku hanya mengenalnya lewat dunia maya. Apakah ini adil jika apa yang aku lakukan di dunia maya harus dibayar kesalahan dalam dunia nyata?”
“Bagiku adil, karena menurutku apa yang kamu lakukan di dunia maya semalam adalah separuh harapanmu di dunia nyata. Jika kau mencintaiku pasti tidak akan begitu mesra denga lelaki yang bahkan belum kau kenal di dunia nyata”.
“Baiklah kalau itu mau kamu kita putus”
Esok harinya, di laptopku, kutemui lagi aris di laman fbnya aku ingin mewujudkan cintaku di dunia maya menjadi dunia nyata, tapi yang kulihat ia memupuskan harapanku di dunia nyata. Aris begitu mesra menjawab komentar seorang perempuan cantik dengan panggilan “Honey”. Lalu kulihat status hubungannya dan perempuan itu adalah kekasih Aris.
Ah selama ini aku salah membaca arti keramahan dan kata kata sayang dari Aris yang kukira itu adalah simbol cinta tetapi rupanya itu adalah ujian bagi kesetiaanku. Dan ternyata aku telah dua kali gagal dalam cinta, baik dalam dunia maya maupun dunia nyata.
Selesai